Rabu, 09 Juli 2008

Angkola Sipirok Guide | Sumatera Utara | Indonesia

Angkola Sipirok Guide | Sumatera Utara | Indonesia

Beberapa Info tentang Angkola Sipirok, Pariwisata008 dapat dari angkolasipirok.blogspot.com, Selamat Membaca :

Budaya (1)

Masyarakat Angkola bermukim di daerah Tapanuli Selatan yaitu di Sipirok, Padangsidempuan, Batangtoru, dan sekitarnya. Masyarakat Angkola dahulunya berasal dari Kerajaan Batak, diperkirakan berdiri pada 1305 di Kampung Sianjur Mula-mula, Pusuk Buhit, Danau Toba. Sejak saat itu, penduduknya mempunyai sistem kekerabatan yang disebut dengan Dalihan na Tolu (dalihan 'tungku', na 'yang',tolu 'tiga') yang berarti 'tungku yang tiga'.
Sistem kekerabatan ini mempunyai tiga unsur dasar yang pada masyarakat Angkola terdiri atas: 1) kahanggi yaitu keluarga laki-laki dari garis keturunan orang tua laki-laki, 2) anak boru yaitu keluarga laki-laki dari suami adik/kakak perempuan yang sudah kawin, dan 3) mora yaitu keluarga laki-laki dari saudara isteri. Ketiga unsur ini memegang peranan penting dalam lingkungan kekelurgaan masyarakat Angkola. Tutur sapa menjadi lancar kalau ketiga unsur ini jelas keberadaannya. Ketiga unsur ini saling memerlukan dan berfungsi sesuai dengan kedudukannya.

Rumpun Batak ini terdiri atas Toba, Angkola, Mandailing, Karo, Simalungun, dan PakpakDairi.
Pada masyarakat Angkola, jaringan kekerabatan itu muncul karena adanya perkawinan, termasuk perkawinan marlojong 'kawin lari'. Bentuk perkawinan yang seperti ini sering ditemukan di kampung (bona bulu) dan di perkotaan yang merupakan tempat tinggal di perantauan. Pada garis besarnya, perkawinan menurut masyarakat Angkola dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1) sepengetahuan keluarga yang disebut dengan istilah dipabuat
2) perkawinan tanpa persetujuan orang tua yang disebut dengan marlojong. Masing-masing kedua cara ini ada aturan, tata cara, dan tata tertibnya yang harus selalu dipa-tuhi oleh setiap orang Angkola.


Kedua bentuk perkawinan itu tergambar lewat pantun Ang-kola berikut ini:


Aha na tubu di lambung ni suhat
Ulang baen margonjong-gonjong
Adong na marbagas dipabuat
Dung i muse adong na marlojong

Apa yang tumbuh dekat keladi
Jangan dibuat berderet lagi
Ada yang kawin dilamar pasti
Namu ada yang kawin lari.

Perbuatan marlojong 'kawin lari' pada masyarakat Angkola merupakan satu kebiasaan apabila perkawinan yang umum tidak dapat dilakukan. Untuk itu, perlu diketahui dan dipahami dengan baik perkawinan menurut adat Dalihan na Tolu ini di daerah Angkola.

Tulisan ini memberikan penjelasan untuk lebih mengenal perkawinan marlojong 'kawin lari', salah satu cara perkawinan pada masyarakat Angkola. Jadi, perkawinan marlojong ini merupakan jalan keluar yang akan ditempuh oleh sepasang muda-mudi Angkola apabila mereka memperoleh kesulitan dan kendala yang tidak dapat diselesaikan.

Untuk itu, penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui mufakat seperti kata pantun Angkola berikut ini,
/Mago pahat mago uhuran
/Di toru ni ragi-ragi
/Mago adat tulus aturan
/Anggo dung mardomu tahi/

yang artinya adalah,

/Hilang pahat hilang ukuran
/ Di bawah adanya urat
/Hilang adat hilang aturan
/Kalau sudah bertemu mufakat
/. Maksudnya, musyawarah
/mufakat itu dapat menyelesaikan semua permasalahan yang timbul.


Sekian dari Pariwisata008, semoga dapat membantu.

Tidak ada komentar: